Jumat, 12 Februari 2016

Semua Akan Indah Pada Waktunya


Coba lihatlah
Debu – debu yang berserakan
Beterbangan di bawa angin
Mereka akan selalu hina
Selama manusia memandangnya
Tapi
Lihatlah kembali
Emas – emas berbalut lumpur
Penuh dengan kekurangan
Merekan akan selalu indah
Selama manusia masih bernyawa
Suatu hari nanti
Pasukan dari langit akan datang
Dengan membawa air – air suci
Dan menyapu bersih lumpur – lumpur itu
Sehaingga
Cahayapun tampak gemerlap
Dari hati nurani mereka
Menghiasi perjalanan nan panjang
Yang berujung di suatu titik
Yaitu, menuju Rahmat Tuhan
Yang telah menciptakannya

Karya Muchyiddin



Penghijauan Sekolah

Selasa, 09 Februari 2016

Tsaniaturrohmah

                                                           Karya : Bros unyu---unyu


Kamis, 28 Januari 2016

Tuti class VIII



Karya : Dwi Astuti Maolani
Keberhasilan Dikala Kematian Santri Pujaan
Kematian Santri Pujaan (Amar)
                                                                                                                            Bagian 1

Suara lantunan adzan telah bergema dimanapun tempat terkecuali di desa pelosok ini, di desa ini yang sepi dan sunyi sekali, jangankan adzan, masjid ataupun musholla saja pun nihil, wajar saja para penghuni desa pelosok ini banyak yang tidak menunaikan ibadah shalat, jangankan untuk yang sunnah, yang wajib saja sering kali terloncati dan lebih parahnya lagi, tidak melakukannya sama sekali,, keadaan tersebut di perhatikan oleh Pak Sukar, kepala desa sebelah...
‘saya perhatikan, di desa tanjung itu tidak terdapat masjid ataupun musholla, itu apa tidak salah,,,???  Itu bagaimana,,?’ tanya pak Sukar, kepala desa sebelah kepada para rekannya di suatu rapat umum..
Disitu juga ada Pak Ahmad, kepala desa di desa Tanjung, yang sengaja di hadirkan untuk mengikuti rapat keprihatinan ini...
‘owh,,, saya kurang tau itu, Pak Sukar,,!’ jawab Pak Ahmad dengan enteng...
Tentu saja jawaban seperti itu membuat para rekan pak sukar tanpa terkecuali pak sukarnya sendiri terkejut dan bingung, mereka pun saling bertatap muka,,,
‘lho, anda itu bagaimana,,? Anda itu adalah seorang warga desa tanjung sendiri bahkan anda itu kepala desa di desa tersebut, anda itu bertanggung jawab atas semua itu, buk...’ terpotong...
Pak Ahmad yang tampak mengenali respect mereka-mereka terhadap dirinya pun menyela dan mencoba untuk menjelaskan...
‘maksud saya seperti ini lho, pak,,!’
Pak Ahmad menekuk siku tangannya, lalu melanjutkan berbicaranya...
‘dari dulu saya bermukim di desa tanjung ini, itu memang saya tidak pernah menjumpai masjid ataupun musholla,, da..’ terpotong...
‘apa anda tidak memiliki gagasan baru sedikitpun untuk merencanakan membangun tempat beribadah,,??’ pekik Pak Anton yang sedari tadi diam dengan nada yang lumayan tinggi...
Pak Ahmad menghela nafas pelan...